{"content_id":"grjte8zhvb","slug":"protein-intake-in-chronic-kidney-disease","locale":"id","schema_type":"Article","category":"knowledge_base","category_name":"Basis Pengetahuan","title":"Asupan Protein pada Penyakit Ginjal Kronis: Mengapa Tidak Boleh Asal Mengurangi atau Mengonsumsinya Sebanyak Mungkin","summary":"Mengurangi protein tanpa syarat karena menderita penyakit ginjal kronis ataupun mengonsumsinya dengan bebas hingga batas maksimum yang diizinkan bukanlah jawaban yang berlaku umum. Karena kebutuhan pasien nondialisis dan pasien dialisis berbeda, fungsi ginjal, status gizi, perubahan berat badan, dan rencana pengobatan harus dinilai bersama.","sponsorship_disclosure":null,"author":{"name":"injoys","url":"https://injoys.com/ko/about"},"key_points":["Orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis yang tidak menjalani dialisis umumnya perlu menghindari asupan protein tinggi yang berlebihan, tetapi tidak boleh memulai diet protein sangat rendah atas keputusan sendiri.","Target asupan protein orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis berbeda menurut tahap perkembangannya, sehingga harus dikonfirmasi kepada tenaga medis yang menangani atau melalui pedoman resmi terbaru.","Selama dialisis, protein dan asam amino dapat hilang, sehingga pasien dialisis umumnya membutuhkan lebih banyak protein daripada pasien nondialisis.","Jika terdapat kerapuhan, sarkopenia, penurunan berat badan, atau kekurangan asupan, target dapat disesuaikan dengan memprioritaskan pemulihan gizi daripada perlindungan ginjal.","Target individual sebaiknya tidak ditentukan hanya dengan mengalikan berat badan aktual, tetapi dengan mempertimbangkan status dialisis, berat badan standar, protein dalam urine, diabetes, dan status gizi."],"content_markdown":"Bagi pasien penyakit ginjal kronis, protein bukanlah zat gizi yang bisa sekadar dikategorikan sebagai “baik” atau “buruk”. Mengonsumsi terlalu banyak dapat membebani pengolahan limbah nitrogen dan tekanan di dalam glomerulus, tetapi mengonsumsi terlalu sedikit dapat meningkatkan risiko kehilangan massa otot dan malnutrisi.\n\nOleh karena itu, agar anjuran “mengonsumsi protein semaksimal mungkin” bermakna tepat, maksudnya haruslah **mengonsumsi jumlah yang dibutuhkan secara cukup dalam kisaran target individual yang ditetapkan oleh tenaga medis**. Akan berbahaya jika dipahami sebagai keharusan mengonsumsi hingga batas atas yang diizinkan atau menjalani pola makan tinggi protein.\n\n## Kesimpulan terlebih dahulu: konsumsi protein sesuai target\n\nHal yang penting dalam pola makan untuk penyakit ginjal kronis bukanlah membatasi protein tanpa syarat atau mengonsumsinya sebanyak mungkin, melainkan **menghindari kelebihan maupun kekurangan**.\n\n- Penyakit ginjal kronis tanpa dialisis: hindari pola makan tinggi protein yang berlebihan dengan mempertimbangkan laju penurunan fungsi ginjal dan penumpukan limbah.\n- Sedang menjalani hemodialisis atau dialisis peritoneal: kebutuhan dapat meningkat dengan mempertimbangkan hilangnya protein dan asam amino selama proses dialisis serta kondisi peradangan.\n- Jika terdapat kerapuhan, sarkopenia, atau berat badan rendah: kerusakan gizi akibat pembatasan berlebihan dapat menjadi masalah yang lebih besar.\n- Masa pemulihan setelah penyakit akut atau operasi: target pada kondisi stabil sehari-hari sulit diterapkan begitu saja.\n\nDengan kata lain, sasaran praktis untuk “memastikan ada protein dalam setiap waktu makan” memang berguna, tetapi jumlah per sekali makan dan jumlah total harian harus ditentukan berdasarkan resep individual.\n\n## Mengapa anjuran mengenai protein berbeda-beda\n\nAlasan dokter mengatakan “kurangi protein” dan alasan dokter mengatakan “jangan makan terlalu sedikit” tidak saling bertentangan. Keduanya merupakan anjuran untuk mengelola risiko yang berbeda.\n\n### Alasan menghindari kelebihan protein\n\nKetika protein diuraikan, terbentuk limbah nitrogen, termasuk urea. Ketika fungsi ginjal menurun, kemampuan untuk mengeluarkan zat-zat tersebut juga berkurang. Secara khusus, konsumsi berlebihan secara terus-menerus, seperti suplemen protein, pola makan yang berpusat pada daging dalam porsi besar, dan diet tinggi protein, mungkin tidak sesuai bagi pasien penyakit ginjal kronis tanpa dialisis.\n\nBatas konsumsi protein tinggi yang harus dihindari oleh orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis yang berisiko mengalami progresi perlu dikonfirmasi kepada tenaga medis yang menangani atau melalui pedoman resmi terbaru.\n\n### Alasan menghindari kekurangan protein\n\nJika protein dikurangi secara berlebihan, massa otot dan berat badan dapat menurun serta fungsi fisik dapat memburuk. Jika jumlah makanan secara keseluruhan berkurang hingga asupan kalori juga tidak mencukupi, tubuh akan menggunakan protein yang dikonsumsi sebagai sumber energi, bukan untuk mempertahankan jaringan. Jika kondisi ini berlanjut, dapat terjadi wasting protein-energi atau malnutrisi.\n\nKhususnya, lansia, pasien dialisis, orang dengan penurunan nafsu makan, dan orang yang baru-baru ini mengalami penurunan berat badan harus lebih mewaspadai efek samping pembatasan.\n\n## Prinsip protein menurut stadium dan status pengobatan\n\nAngka-angka di bawah ini merupakan kisaran pedoman untuk kelompok dan bukan resep individual. Dalam perhitungan sebenarnya, berat badan standar atau berat badan yang disesuaikan dapat digunakan sesuai kondisi klinis.\n\n| Kondisi | Prinsip umum | Hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran |\n|---|---|---|\n| Penyakit ginjal kronis G1~G2 | Hindari kelebihan protein dan pertahankan pola makan seimbang | G1~G2 tidak didiagnosis hanya berdasarkan rendahnya laju filtrasi glomerulus; diperlukan bukti kerusakan ginjal seperti albuminuria |\n| G3~G5 tanpa dialisis | KDIGO 2024 menyarankan agar orang dewasa dalam kondisi stabil mempertahankan sekitar 0.8g per 1kg berat badan per hari | Dapat disesuaikan berdasarkan diabetes, albuminuria, obesitas, kerapuhan, dan asupan kalori |\n| Pola makan rendah protein di bawah pengawasan tenaga medis | Beberapa pedoman menyajikan kisaran yang lebih rendah untuk sebagian pasien tanpa dialisis yang kondisinya stabil | Memerlukan kalori yang cukup, konseling gizi, dan pemantauan berkala serta tidak boleh dilakukan sendiri |\n| Hemodialisis atau dialisis peritoneal | Secara umum, kebutuhan protein lebih tinggi daripada pasien tanpa dialisis | Berbeda menurut metode dialisis, fungsi ginjal residual, peradangan, dan nafsu makan |\n| Kerapuhan, sarkopenia, atau penurunan berat badan | Mungkin diperlukan target yang lebih tinggi atau pelonggaran pembatasan | Kekuatan otot, tren berat badan, dan asupan aktual dinilai secara bersamaan |\n| Penyakit akut, rawat inap, atau masa pemulihan setelah operasi | Target penyakit ginjal kronis dalam kondisi stabil tidak diterapkan begitu saja | Tenaga medis yang menangani dan ahli gizi klinis mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit dan kebutuhan pemulihan |\n\nBeberapa pedoman gizi menyarankan kisaran protein yang lebih rendah bagi sebagian pasien tanpa dialisis yang kondisinya stabil di bawah pengawasan ketat tenaga medis. Perbedaan angka antar-pedoman seperti ini terjadi karena perbedaan pasien sasaran, keberadaan diabetes, tingkat pengelolaan gizi, dan penafsiran bukti. Satu angka yang dilihat di internet tidak boleh diterapkan kepada semua pasien.\n\n## Bagaimana menentukan target protein saya\n\nUntuk menentukan target individual, setidaknya informasi berikut harus diperiksa.\n\n1. **Status dan metode dialisis:** kebutuhan pada kondisi tanpa dialisis, hemodialisis, dan dialisis peritoneal tidak sama.\n2. **Fungsi ginjal dan laju perubahannya:** bukan hanya estimasi laju filtrasi glomerulus saat ini, tetapi perubahannya dari waktu ke waktu juga penting.\n3. **Albuminuria atau proteinuria:** ini adalah informasi utama untuk menilai kerusakan ginjal dan risiko progresi.\n4. **Acuan berat badan:** jika terdapat edema atau obesitas, berat badan saat ini mungkin tidak langsung digunakan dalam perhitungan.\n5. **Status gizi:** penurunan berat badan baru-baru ini, nafsu makan, massa otot, kekuatan otot, dan tes darah dinilai secara bersamaan.\n6. **Penyakit penyerta:** diabetes, penyakit hati, infeksi, kanker, gagal jantung, dan penyakit saluran cerna memengaruhi target.\n7. **Asupan kalori total:** jika kalori tidak mencukupi, bahkan protein dalam jumlah yang tepat tidak dapat digunakan secara optimal untuk mempertahankan otot.\n\nBerat badan yang menjadi dasar perhitungan dan target harian per berat badan harus dikonfirmasi kepada tenaga medis yang menangani. Target protein harian dapat dihitung dengan mengalikan kedua angka tersebut. Ini hanyalah contoh yang menunjukkan metode perhitungan dan bukan resep yang dapat diterapkan begitu saja pada berat badan aktual orang yang mengalami edema atau pada semua pasien.\n\n## Cara aman menerapkan “memastikan protein dalam setiap waktu makan”\n\nMembagi target harian ke setiap waktu makan, alih-alih mengonsumsinya sekaligus dalam satu waktu makan, memudahkan perencanaan makanan dan pemeriksaan asupan.\n\n- Pertama-tama, konfirmasikan target protein harian kepada ahli gizi klinis atau tenaga medis yang menangani.\n- Untuk makanan olahan, bedakan takaran saji pada informasi gizi dengan jumlah yang benar-benar dikonsumsi.\n- Masukkan bukan hanya daging, tetapi juga ikan, telur, tahu, kacang-kacangan, dan produk susu ke dalam jumlah keseluruhan.\n- Tambahkan bubuk protein, minuman tinggi protein, dan suplemen olahraga ke dalam jumlah total harian.\n- Sesuaikan komposisi makanan secara keseluruhan, termasuk serealia dan lemak, agar asupan kalori tidak terlalu rendah.\n- Kebutuhan pembatasan natrium, kalium, dan fosfor berbeda-beda menurut hasil pemeriksaan dan obat-obatan, sehingga jangan membatasi semuanya secara seragam.\n\nKandungan protein dalam makanan berbeda-beda menurut produk serta berat sebelum dan sesudah dimasak. Untuk makanan kemasan, periksa informasi gizi. Untuk makanan yang dimasak, lebih aman menggunakan daftar penukar bahan makanan yang diberikan oleh ahli gizi klinis atau basis data gizi resmi.\n\n## Apakah jenis protein juga penting?\n\nJumlah total protein merupakan prioritas, tetapi sumber makanan dan tingkat pengolahannya juga memengaruhi kualitas pola makan. KDIGO merekomendasikan pola makan beragam dengan proporsi tinggi bahan pangan nabati dan pengurangan makanan ultra-proses bagi pasien penyakit ginjal kronis.\n\nKacang-kacangan dan kacang pohon menyediakan protein, serat pangan, serta lemak tak jenuh, tetapi kandungan kalium dan fosfornya juga perlu dipertimbangkan. Namun, tidak perlu melarang semua protein nabati tanpa mempertimbangkan hasil pemeriksaan. Penyesuaian harus dilakukan berdasarkan kadar kalium, status dialisis, obat yang dikonsumsi, dan jumlah per sekali makan.\n\nDaging olahan dapat mengandung bukan hanya protein, tetapi juga banyak natrium dan bahan tambahan fosfor. Memeriksa bahan tambahan golongan fosfat dan kandungan natrium pada daftar komposisi makanan dapat membantu.\n\n## Risiko yang mudah terlewatkan jika hanya berfokus pada angka: wasting protein-energi\n\nJika hanya menghitung asupan protein, kemerosotan status gizi yang sebenarnya dapat terlewatkan. Pada penyakit ginjal kronis, penurunan nafsu makan, peradangan, perubahan metabolisme, pembatasan makanan, dan kehilangan akibat dialisis dapat terjadi bersamaan sehingga mengurangi simpanan protein dan energi dalam tubuh.\n\nJika terjadi perubahan berikut, beri tahu tenaga medis sebelum mengurangi protein lebih lanjut.\n\n- Penurunan berat badan yang tidak disengaja terus berlanjut.\n- Jumlah makanan yang dikonsumsi tampak berkurang dibandingkan biasanya.\n- Menaiki tangga atau bangkit dari kursi menjadi jauh lebih sulit.\n- Lengan atau tungkai menjadi lebih kurus atau kekuatan genggaman melemah.\n- Mual, muntah, atau perubahan selera makan membuat makan secara berkelanjutan menjadi sulit.\n- Pemulihan setelah dialisis memerlukan waktu lama atau luka sulit sembuh.\n\nStatus gizi tidak dapat dipastikan hanya dengan satu hasil kadar albumin serum. Albumin juga dipengaruhi oleh peradangan, infeksi, status cairan, dan fungsi hati, sehingga harus ditafsirkan bersama tren berat badan, catatan makanan, dan fungsi fisik.\n\n## Kesalahpahaman umum yang harus dihindari\n\n### “Jika ginjal bermasalah, daging dan tahu harus dihentikan sepenuhnya”\n\nTidak demikian. Jenis dan porsi makanan harus disesuaikan dengan jumlah total yang dibutuhkan dan hasil pemeriksaan. Melarang berbagai makanan tanpa syarat dapat menyebabkan kekurangan kalori dan protein secara bersamaan.\n\n### “Untuk mempertahankan otot, harus mengonsumsi suplemen tinggi protein”\n\nPemeliharaan otot tidak hanya ditentukan oleh protein. Diperlukan pula kalori yang cukup, latihan kekuatan yang aman, serta pengelolaan peradangan dan asidosis. Suplemen dapat mengandung kalium, fosfor, natrium, atau bahan herbal selain protein, sehingga lebih aman untuk tidak memulainya sendiri.\n\n### “Jika kreatinin tinggi, protein harus segera dikurangi secara drastis”\n\nKreatinin dapat dipengaruhi bukan hanya oleh fungsi ginjal, tetapi juga massa otot, dehidrasi, konsumsi daging baru-baru ini, dan obat-obatan. Alih-alih mengubah target makanan secara drastis berdasarkan satu hasil saja, estimasi laju filtrasi glomerulus, albuminuria, dan hasil pemeriksaan berulang harus dinilai bersama.\n\n### “Setelah memulai dialisis, pola makan rendah protein sebelumnya harus tetap dilanjutkan”\n\nKetika dialisis dimulai, target gizi sering kali berubah. Mempertahankan pembatasan sebelumnya tanpa perubahan dapat meningkatkan risiko kekurangan protein, sehingga target baru harus dikonfirmasi kepada tim medis dialisis.\n\n## Pertanyaan yang perlu dikonfirmasi saat konsultasi\n\nMenyiapkan pertanyaan berikut dapat membantu menyusun rencana yang dapat diterapkan, alih-alih sekadar anjuran samar untuk makan “sedikit” atau “banyak”.\n\n- Berapa kg berat badan yang menjadi dasar perhitungan saya?\n- Berapa g target protein harian saya, dan kira-kira berapa jumlahnya per sekali makan?\n- Apakah target saat ini lebih menitikberatkan pada perlindungan fungsi ginjal atau pemeliharaan status gizi?\n- Seberapa besar perubahan berat badan atau nafsu makan yang mengharuskan saya berkonsultasi kembali?\n- Apakah kalium dan fosfor juga perlu dibatasi, atau berdasarkan pemeriksaan saat ini pembatasan tidak diperlukan?\n- Bolehkah saya mengonsumsi suplemen protein olahraga atau minuman bernutrisi?\n\nIntinya bukan takut terhadap protein atau mengonsumsinya tanpa batas. Pendekatan yang aman adalah **mengonsumsi secara cukup sesuai target yang ditetapkan untuk tahap pengobatan saat ini, lalu menyesuaikan kembali target ketika berat badan, kekuatan otot, atau hasil pemeriksaan berubah**.","content_html":"\u003cp\u003eBagi pasien penyakit ginjal kronis, protein bukanlah zat gizi yang bisa sekadar dikategorikan sebagai “baik” atau “buruk”. Mengonsumsi terlalu banyak dapat membebani pengolahan limbah nitrogen dan tekanan di dalam glomerulus, tetapi mengonsumsi terlalu sedikit dapat meningkatkan risiko kehilangan massa otot dan malnutrisi.\u003c/p\u003e\n\u003cp\u003eOleh karena itu, agar anjuran “mengonsumsi protein semaksimal mungkin” bermakna tepat, maksudnya haruslah \u003cstrong\u003emengonsumsi jumlah yang dibutuhkan secara cukup dalam kisaran target individual yang ditetapkan oleh tenaga medis\u003c/strong\u003e. Akan berbahaya jika dipahami sebagai keharusan mengonsumsi hingga batas atas yang diizinkan atau menjalani pola makan tinggi protein.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#kesimpulan-terlebih-dahulu-konsumsi-protein-sesuai-target\" class=\"anchor\" id=\"kesimpulan-terlebih-dahulu-konsumsi-protein-sesuai-target\"\u003e\u003c/a\u003eKesimpulan terlebih dahulu: konsumsi protein sesuai target\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eHal yang penting dalam pola makan untuk penyakit ginjal kronis bukanlah membatasi protein tanpa syarat atau mengonsumsinya sebanyak mungkin, melainkan \u003cstrong\u003emenghindari kelebihan maupun kekurangan\u003c/strong\u003e.\u003c/p\u003e\n\u003cul\u003e\n\u003cli\u003ePenyakit ginjal kronis tanpa dialisis: hindari pola makan tinggi protein yang berlebihan dengan mempertimbangkan laju penurunan fungsi ginjal dan penumpukan limbah.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eSedang menjalani hemodialisis atau dialisis peritoneal: kebutuhan dapat meningkat dengan mempertimbangkan hilangnya protein dan asam amino selama proses dialisis serta kondisi peradangan.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eJika terdapat kerapuhan, sarkopenia, atau berat badan rendah: kerusakan gizi akibat pembatasan berlebihan dapat menjadi masalah yang lebih besar.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eMasa pemulihan setelah penyakit akut atau operasi: target pada kondisi stabil sehari-hari sulit diterapkan begitu saja.\u003c/li\u003e\n\u003c/ul\u003e\n\u003cp\u003eDengan kata lain, sasaran praktis untuk “memastikan ada protein dalam setiap waktu makan” memang berguna, tetapi jumlah per sekali makan dan jumlah total harian harus ditentukan berdasarkan resep individual.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#mengapa-anjuran-mengenai-protein-berbeda-beda\" class=\"anchor\" id=\"mengapa-anjuran-mengenai-protein-berbeda-beda\"\u003e\u003c/a\u003eMengapa anjuran mengenai protein berbeda-beda\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eAlasan dokter mengatakan “kurangi protein” dan alasan dokter mengatakan “jangan makan terlalu sedikit” tidak saling bertentangan. Keduanya merupakan anjuran untuk mengelola risiko yang berbeda.\u003c/p\u003e\n\u003ch3\u003e\n\u003ca href=\"#alasan-menghindari-kelebihan-protein\" class=\"anchor\" id=\"alasan-menghindari-kelebihan-protein\"\u003e\u003c/a\u003eAlasan menghindari kelebihan protein\u003c/h3\u003e\n\u003cp\u003eKetika protein diuraikan, terbentuk limbah nitrogen, termasuk urea. Ketika fungsi ginjal menurun, kemampuan untuk mengeluarkan zat-zat tersebut juga berkurang. Secara khusus, konsumsi berlebihan secara terus-menerus, seperti suplemen protein, pola makan yang berpusat pada daging dalam porsi besar, dan diet tinggi protein, mungkin tidak sesuai bagi pasien penyakit ginjal kronis tanpa dialisis.\u003c/p\u003e\n\u003cp\u003eBatas konsumsi protein tinggi yang harus dihindari oleh orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis yang berisiko mengalami progresi perlu dikonfirmasi kepada tenaga medis yang menangani atau melalui pedoman resmi terbaru.\u003c/p\u003e\n\u003ch3\u003e\n\u003ca href=\"#alasan-menghindari-kekurangan-protein\" class=\"anchor\" id=\"alasan-menghindari-kekurangan-protein\"\u003e\u003c/a\u003eAlasan menghindari kekurangan protein\u003c/h3\u003e\n\u003cp\u003eJika protein dikurangi secara berlebihan, massa otot dan berat badan dapat menurun serta fungsi fisik dapat memburuk. Jika jumlah makanan secara keseluruhan berkurang hingga asupan kalori juga tidak mencukupi, tubuh akan menggunakan protein yang dikonsumsi sebagai sumber energi, bukan untuk mempertahankan jaringan. Jika kondisi ini berlanjut, dapat terjadi wasting protein-energi atau malnutrisi.\u003c/p\u003e\n\u003cp\u003eKhususnya, lansia, pasien dialisis, orang dengan penurunan nafsu makan, dan orang yang baru-baru ini mengalami penurunan berat badan harus lebih mewaspadai efek samping pembatasan.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#prinsip-protein-menurut-stadium-dan-status-pengobatan\" class=\"anchor\" id=\"prinsip-protein-menurut-stadium-dan-status-pengobatan\"\u003e\u003c/a\u003ePrinsip protein menurut stadium dan status pengobatan\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eAngka-angka di bawah ini merupakan kisaran pedoman untuk kelompok dan bukan resep individual. Dalam perhitungan sebenarnya, berat badan standar atau berat badan yang disesuaikan dapat digunakan sesuai kondisi klinis.\u003c/p\u003e\n\u003cdiv class=\"overflow-x-auto\"\u003e\u003ctable\u003e\n\u003cthead\u003e\n\u003ctr\u003e\n\u003cth\u003eKondisi\u003c/th\u003e\n\u003cth\u003ePrinsip umum\u003c/th\u003e\n\u003cth\u003eHal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran\u003c/th\u003e\n\u003c/tr\u003e\n\u003c/thead\u003e\n\u003ctbody\u003e\n\u003ctr\u003e\n\u003ctd data-label=\"Kondisi\"\u003ePenyakit ginjal kronis G1~G2\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Prinsip umum\"\u003eHindari kelebihan protein dan pertahankan pola makan seimbang\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran\"\u003eG1~G2 tidak didiagnosis hanya berdasarkan rendahnya laju filtrasi glomerulus; diperlukan bukti kerusakan ginjal seperti albuminuria\u003c/td\u003e\n\u003c/tr\u003e\n\u003ctr\u003e\n\u003ctd data-label=\"Kondisi\"\u003eG3~G5 tanpa dialisis\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Prinsip umum\"\u003eKDIGO 2024 menyarankan agar orang dewasa dalam kondisi stabil mempertahankan sekitar 0.8g per 1kg berat badan per hari\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran\"\u003eDapat disesuaikan berdasarkan diabetes, albuminuria, obesitas, kerapuhan, dan asupan kalori\u003c/td\u003e\n\u003c/tr\u003e\n\u003ctr\u003e\n\u003ctd data-label=\"Kondisi\"\u003ePola makan rendah protein di bawah pengawasan tenaga medis\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Prinsip umum\"\u003eBeberapa pedoman menyajikan kisaran yang lebih rendah untuk sebagian pasien tanpa dialisis yang kondisinya stabil\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran\"\u003eMemerlukan kalori yang cukup, konseling gizi, dan pemantauan berkala serta tidak boleh dilakukan sendiri\u003c/td\u003e\n\u003c/tr\u003e\n\u003ctr\u003e\n\u003ctd data-label=\"Kondisi\"\u003eHemodialisis atau dialisis peritoneal\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Prinsip umum\"\u003eSecara umum, kebutuhan protein lebih tinggi daripada pasien tanpa dialisis\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran\"\u003eBerbeda menurut metode dialisis, fungsi ginjal residual, peradangan, dan nafsu makan\u003c/td\u003e\n\u003c/tr\u003e\n\u003ctr\u003e\n\u003ctd data-label=\"Kondisi\"\u003eKerapuhan, sarkopenia, atau penurunan berat badan\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Prinsip umum\"\u003eMungkin diperlukan target yang lebih tinggi atau pelonggaran pembatasan\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran\"\u003eKekuatan otot, tren berat badan, dan asupan aktual dinilai secara bersamaan\u003c/td\u003e\n\u003c/tr\u003e\n\u003ctr\u003e\n\u003ctd data-label=\"Kondisi\"\u003ePenyakit akut, rawat inap, atau masa pemulihan setelah operasi\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Prinsip umum\"\u003eTarget penyakit ginjal kronis dalam kondisi stabil tidak diterapkan begitu saja\u003c/td\u003e\n\u003ctd data-label=\"Hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran\"\u003eTenaga medis yang menangani dan ahli gizi klinis mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit dan kebutuhan pemulihan\u003c/td\u003e\n\u003c/tr\u003e\n\u003c/tbody\u003e\n\u003c/table\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cp\u003eBeberapa pedoman gizi menyarankan kisaran protein yang lebih rendah bagi sebagian pasien tanpa dialisis yang kondisinya stabil di bawah pengawasan ketat tenaga medis. Perbedaan angka antar-pedoman seperti ini terjadi karena perbedaan pasien sasaran, keberadaan diabetes, tingkat pengelolaan gizi, dan penafsiran bukti. Satu angka yang dilihat di internet tidak boleh diterapkan kepada semua pasien.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#bagaimana-menentukan-target-protein-saya\" class=\"anchor\" id=\"bagaimana-menentukan-target-protein-saya\"\u003e\u003c/a\u003eBagaimana menentukan target protein saya\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eUntuk menentukan target individual, setidaknya informasi berikut harus diperiksa.\u003c/p\u003e\n\u003col\u003e\n\u003cli\u003e\n\u003cstrong\u003eStatus dan metode dialisis:\u003c/strong\u003e kebutuhan pada kondisi tanpa dialisis, hemodialisis, dan dialisis peritoneal tidak sama.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003e\n\u003cstrong\u003eFungsi ginjal dan laju perubahannya:\u003c/strong\u003e bukan hanya estimasi laju filtrasi glomerulus saat ini, tetapi perubahannya dari waktu ke waktu juga penting.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003e\n\u003cstrong\u003eAlbuminuria atau proteinuria:\u003c/strong\u003e ini adalah informasi utama untuk menilai kerusakan ginjal dan risiko progresi.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003e\n\u003cstrong\u003eAcuan berat badan:\u003c/strong\u003e jika terdapat edema atau obesitas, berat badan saat ini mungkin tidak langsung digunakan dalam perhitungan.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003e\n\u003cstrong\u003eStatus gizi:\u003c/strong\u003e penurunan berat badan baru-baru ini, nafsu makan, massa otot, kekuatan otot, dan tes darah dinilai secara bersamaan.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003e\n\u003cstrong\u003ePenyakit penyerta:\u003c/strong\u003e diabetes, penyakit hati, infeksi, kanker, gagal jantung, dan penyakit saluran cerna memengaruhi target.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003e\n\u003cstrong\u003eAsupan kalori total:\u003c/strong\u003e jika kalori tidak mencukupi, bahkan protein dalam jumlah yang tepat tidak dapat digunakan secara optimal untuk mempertahankan otot.\u003c/li\u003e\n\u003c/ol\u003e\n\u003cp\u003eBerat badan yang menjadi dasar perhitungan dan target harian per berat badan harus dikonfirmasi kepada tenaga medis yang menangani. Target protein harian dapat dihitung dengan mengalikan kedua angka tersebut. Ini hanyalah contoh yang menunjukkan metode perhitungan dan bukan resep yang dapat diterapkan begitu saja pada berat badan aktual orang yang mengalami edema atau pada semua pasien.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#cara-aman-menerapkan-memastikan-protein-dalam-setiap-waktu-makan\" class=\"anchor\" id=\"cara-aman-menerapkan-memastikan-protein-dalam-setiap-waktu-makan\"\u003e\u003c/a\u003eCara aman menerapkan “memastikan protein dalam setiap waktu makan”\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eMembagi target harian ke setiap waktu makan, alih-alih mengonsumsinya sekaligus dalam satu waktu makan, memudahkan perencanaan makanan dan pemeriksaan asupan.\u003c/p\u003e\n\u003cul\u003e\n\u003cli\u003ePertama-tama, konfirmasikan target protein harian kepada ahli gizi klinis atau tenaga medis yang menangani.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eUntuk makanan olahan, bedakan takaran saji pada informasi gizi dengan jumlah yang benar-benar dikonsumsi.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eMasukkan bukan hanya daging, tetapi juga ikan, telur, tahu, kacang-kacangan, dan produk susu ke dalam jumlah keseluruhan.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eTambahkan bubuk protein, minuman tinggi protein, dan suplemen olahraga ke dalam jumlah total harian.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eSesuaikan komposisi makanan secara keseluruhan, termasuk serealia dan lemak, agar asupan kalori tidak terlalu rendah.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eKebutuhan pembatasan natrium, kalium, dan fosfor berbeda-beda menurut hasil pemeriksaan dan obat-obatan, sehingga jangan membatasi semuanya secara seragam.\u003c/li\u003e\n\u003c/ul\u003e\n\u003cp\u003eKandungan protein dalam makanan berbeda-beda menurut produk serta berat sebelum dan sesudah dimasak. Untuk makanan kemasan, periksa informasi gizi. Untuk makanan yang dimasak, lebih aman menggunakan daftar penukar bahan makanan yang diberikan oleh ahli gizi klinis atau basis data gizi resmi.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#apakah-jenis-protein-juga-penting\" class=\"anchor\" id=\"apakah-jenis-protein-juga-penting\"\u003e\u003c/a\u003eApakah jenis protein juga penting?\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eJumlah total protein merupakan prioritas, tetapi sumber makanan dan tingkat pengolahannya juga memengaruhi kualitas pola makan. KDIGO merekomendasikan pola makan beragam dengan proporsi tinggi bahan pangan nabati dan pengurangan makanan ultra-proses bagi pasien penyakit ginjal kronis.\u003c/p\u003e\n\u003cp\u003eKacang-kacangan dan kacang pohon menyediakan protein, serat pangan, serta lemak tak jenuh, tetapi kandungan kalium dan fosfornya juga perlu dipertimbangkan. Namun, tidak perlu melarang semua protein nabati tanpa mempertimbangkan hasil pemeriksaan. Penyesuaian harus dilakukan berdasarkan kadar kalium, status dialisis, obat yang dikonsumsi, dan jumlah per sekali makan.\u003c/p\u003e\n\u003cp\u003eDaging olahan dapat mengandung bukan hanya protein, tetapi juga banyak natrium dan bahan tambahan fosfor. Memeriksa bahan tambahan golongan fosfat dan kandungan natrium pada daftar komposisi makanan dapat membantu.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#risiko-yang-mudah-terlewatkan-jika-hanya-berfokus-pada-angka-wasting-protein-energi\" class=\"anchor\" id=\"risiko-yang-mudah-terlewatkan-jika-hanya-berfokus-pada-angka-wasting-protein-energi\"\u003e\u003c/a\u003eRisiko yang mudah terlewatkan jika hanya berfokus pada angka: wasting protein-energi\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eJika hanya menghitung asupan protein, kemerosotan status gizi yang sebenarnya dapat terlewatkan. Pada penyakit ginjal kronis, penurunan nafsu makan, peradangan, perubahan metabolisme, pembatasan makanan, dan kehilangan akibat dialisis dapat terjadi bersamaan sehingga mengurangi simpanan protein dan energi dalam tubuh.\u003c/p\u003e\n\u003cp\u003eJika terjadi perubahan berikut, beri tahu tenaga medis sebelum mengurangi protein lebih lanjut.\u003c/p\u003e\n\u003cul\u003e\n\u003cli\u003ePenurunan berat badan yang tidak disengaja terus berlanjut.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eJumlah makanan yang dikonsumsi tampak berkurang dibandingkan biasanya.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eMenaiki tangga atau bangkit dari kursi menjadi jauh lebih sulit.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eLengan atau tungkai menjadi lebih kurus atau kekuatan genggaman melemah.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eMual, muntah, atau perubahan selera makan membuat makan secara berkelanjutan menjadi sulit.\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003ePemulihan setelah dialisis memerlukan waktu lama atau luka sulit sembuh.\u003c/li\u003e\n\u003c/ul\u003e\n\u003cp\u003eStatus gizi tidak dapat dipastikan hanya dengan satu hasil kadar albumin serum. Albumin juga dipengaruhi oleh peradangan, infeksi, status cairan, dan fungsi hati, sehingga harus ditafsirkan bersama tren berat badan, catatan makanan, dan fungsi fisik.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#kesalahpahaman-umum-yang-harus-dihindari\" class=\"anchor\" id=\"kesalahpahaman-umum-yang-harus-dihindari\"\u003e\u003c/a\u003eKesalahpahaman umum yang harus dihindari\u003c/h2\u003e\n\u003ch3\u003e\n\u003ca href=\"#jika-ginjal-bermasalah-daging-dan-tahu-harus-dihentikan-sepenuhnya\" class=\"anchor\" id=\"jika-ginjal-bermasalah-daging-dan-tahu-harus-dihentikan-sepenuhnya\"\u003e\u003c/a\u003e“Jika ginjal bermasalah, daging dan tahu harus dihentikan sepenuhnya”\u003c/h3\u003e\n\u003cp\u003eTidak demikian. Jenis dan porsi makanan harus disesuaikan dengan jumlah total yang dibutuhkan dan hasil pemeriksaan. Melarang berbagai makanan tanpa syarat dapat menyebabkan kekurangan kalori dan protein secara bersamaan.\u003c/p\u003e\n\u003ch3\u003e\n\u003ca href=\"#untuk-mempertahankan-otot-harus-mengonsumsi-suplemen-tinggi-protein\" class=\"anchor\" id=\"untuk-mempertahankan-otot-harus-mengonsumsi-suplemen-tinggi-protein\"\u003e\u003c/a\u003e“Untuk mempertahankan otot, harus mengonsumsi suplemen tinggi protein”\u003c/h3\u003e\n\u003cp\u003ePemeliharaan otot tidak hanya ditentukan oleh protein. Diperlukan pula kalori yang cukup, latihan kekuatan yang aman, serta pengelolaan peradangan dan asidosis. Suplemen dapat mengandung kalium, fosfor, natrium, atau bahan herbal selain protein, sehingga lebih aman untuk tidak memulainya sendiri.\u003c/p\u003e\n\u003ch3\u003e\n\u003ca href=\"#jika-kreatinin-tinggi-protein-harus-segera-dikurangi-secara-drastis\" class=\"anchor\" id=\"jika-kreatinin-tinggi-protein-harus-segera-dikurangi-secara-drastis\"\u003e\u003c/a\u003e“Jika kreatinin tinggi, protein harus segera dikurangi secara drastis”\u003c/h3\u003e\n\u003cp\u003eKreatinin dapat dipengaruhi bukan hanya oleh fungsi ginjal, tetapi juga massa otot, dehidrasi, konsumsi daging baru-baru ini, dan obat-obatan. Alih-alih mengubah target makanan secara drastis berdasarkan satu hasil saja, estimasi laju filtrasi glomerulus, albuminuria, dan hasil pemeriksaan berulang harus dinilai bersama.\u003c/p\u003e\n\u003ch3\u003e\n\u003ca href=\"#setelah-memulai-dialisis-pola-makan-rendah-protein-sebelumnya-harus-tetap-dilanjutkan\" class=\"anchor\" id=\"setelah-memulai-dialisis-pola-makan-rendah-protein-sebelumnya-harus-tetap-dilanjutkan\"\u003e\u003c/a\u003e“Setelah memulai dialisis, pola makan rendah protein sebelumnya harus tetap dilanjutkan”\u003c/h3\u003e\n\u003cp\u003eKetika dialisis dimulai, target gizi sering kali berubah. Mempertahankan pembatasan sebelumnya tanpa perubahan dapat meningkatkan risiko kekurangan protein, sehingga target baru harus dikonfirmasi kepada tim medis dialisis.\u003c/p\u003e\n\u003ch2\u003e\n\u003ca href=\"#pertanyaan-yang-perlu-dikonfirmasi-saat-konsultasi\" class=\"anchor\" id=\"pertanyaan-yang-perlu-dikonfirmasi-saat-konsultasi\"\u003e\u003c/a\u003ePertanyaan yang perlu dikonfirmasi saat konsultasi\u003c/h2\u003e\n\u003cp\u003eMenyiapkan pertanyaan berikut dapat membantu menyusun rencana yang dapat diterapkan, alih-alih sekadar anjuran samar untuk makan “sedikit” atau “banyak”.\u003c/p\u003e\n\u003cul\u003e\n\u003cli\u003eBerapa kg berat badan yang menjadi dasar perhitungan saya?\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eBerapa g target protein harian saya, dan kira-kira berapa jumlahnya per sekali makan?\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eApakah target saat ini lebih menitikberatkan pada perlindungan fungsi ginjal atau pemeliharaan status gizi?\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eSeberapa besar perubahan berat badan atau nafsu makan yang mengharuskan saya berkonsultasi kembali?\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eApakah kalium dan fosfor juga perlu dibatasi, atau berdasarkan pemeriksaan saat ini pembatasan tidak diperlukan?\u003c/li\u003e\n\u003cli\u003eBolehkah saya mengonsumsi suplemen protein olahraga atau minuman bernutrisi?\u003c/li\u003e\n\u003c/ul\u003e\n\u003cp\u003eIntinya bukan takut terhadap protein atau mengonsumsinya tanpa batas. Pendekatan yang aman adalah \u003cstrong\u003emengonsumsi secara cukup sesuai target yang ditetapkan untuk tahap pengobatan saat ini, lalu menyesuaikan kembali target ketika berat badan, kekuatan otot, atau hasil pemeriksaan berubah\u003c/strong\u003e.\u003c/p\u003e\n","tags":["Kesehatan ginjal","Penyakit ginjal kronis","Dialisis","Fungsi ginjal","Sarkopenia"],"faqs":[{"question":"Jika menderita penyakit ginjal kronis, apakah protein harus selalu dikurangi?","answer":"Tidak. Pada penyakit ginjal kronis tanpa dialisis, penting untuk menghindari asupan protein tinggi yang berlebihan, tetapi pembatasan berlebihan dapat menyebabkan berkurangnya massa otot dan malnutrisi. Jumlah yang dikonsumsi harus sesuai dengan target yang ditetapkan dengan mempertimbangkan status dialisis, fungsi ginjal, berat badan standar, dan status gizi."},{"question":"Apakah pasien penyakit ginjal kronis sebaiknya mengonsumsi protein sebanyak mungkin?","answer":"Jika ‘sebanyak mungkin’ berarti mengonsumsi dalam jumlah yang cukup hingga mencapai rentang target yang ditetapkan oleh tenaga medis, hal itu mungkin tepat. Namun, mengonsumsi banyak daging atau suplemen tanpa mengetahui batas atas bagi masing-masing individu tidak dianjurkan, dan batas asupan tinggi yang harus dihindari perlu dikonfirmasi kepada tenaga medis yang menangani atau melalui pedoman resmi terbaru."},{"question":"Berapa standar asupan protein untuk penyakit ginjal kronis tanpa dialisis?","answer":"Target asupan protein bagi orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis tanpa dialisis berbeda-beda menurut tahap perkembangan penyakit, sehingga harus dikonfirmasi kepada tenaga medis yang menangani atau melalui pedoman resmi terbaru. Namun, beberapa pedoman gizi menyarankan rentang yang lebih rendah di bawah pengawasan ketat, dan target sebenarnya berbeda-beda menurut diabetes, berat badan, kondisi frail, dan status gizi."},{"question":"Jika mulai menjalani dialisis, apakah protein harus dikonsumsi lebih banyak?","answer":"Secara umum, ya. Karena asam amino dan protein dapat hilang selama hemodialisis dan dialisis peritoneal serta inflamasi atau beban metabolik juga dapat meningkat, kebutuhan protein sering kali lebih tinggi dibandingkan sebelum dialisis. Jumlah yang tepat harus diresepkan kembali sesuai dengan metode dialisis dan status gizi."},{"question":"Apakah protein nabati selalu lebih baik untuk ginjal?","answer":"Pola makan dengan proporsi tinggi makanan nabati dapat memberikan manfaat dalam hal serat pangan dan kualitas pola makan secara keseluruhan, tetapi tidak cocok untuk semua pasien tanpa batas. Kadar kalium dan fosfor dalam darah, status dialisis, obat-obatan, serta jumlah yang dikonsumsi setiap kali makan harus dipertimbangkan bersama-sama."},{"question":"Apakah boleh mengonsumsi suplemen protein atau minuman tinggi protein?","answer":"Keputusan harus dibuat setelah memeriksakan komposisi dan jumlah konsumsi per sajian kepada tenaga medis yang menangani atau ahli gizi klinis. Bergantung pada produknya, selain protein, produk tersebut juga dapat mengandung kalium, fosfor, natrium, dan bahan herbal, sedangkan produk olahraga umum mungkin tidak sesuai dengan target pasien penyakit ginjal kronis."},{"question":"Jika kadar kreatinin meningkat, apakah protein harus segera dikurangi?","answer":"Protein tidak boleh dikurangi secara drastis hanya karena satu kali peningkatan kreatinin. Selain fungsi ginjal, kreatinin juga dipengaruhi oleh massa otot, dehidrasi, konsumsi daging baru-baru ini, dan obat-obatan, sehingga perkiraan laju filtrasi glomerulus, albuminuria, dan hasil pemeriksaan berulang harus dinilai bersama-sama."},{"question":"Apa tanda-tanda bahwa asupan protein terlalu sedikit?","answer":"Tanda-tandanya dapat berupa penurunan berat badan yang tidak disengaja, berkurangnya jumlah makanan yang dikonsumsi, penurunan kekuatan otot, anggota tubuh yang semakin kurus, dan penyembuhan luka yang melambat. Jika terjadi perubahan seperti ini, beri tahu tenaga medis sebelum membatasi protein lebih lanjut dan jalani evaluasi terhadap total asupan kalori serta status gizi."}],"sources":[{"url":"https://kdigo.org/guidelines/ckd-evaluation-and-management/","title":"Pedoman Praktik Klinis KDIGO 2024 untuk Evaluasi dan Penatalaksanaan Penyakit Ginjal Kronis","type":"data_point"},{"url":"https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32829751/","title":"Pedoman Praktik Klinis KDOQI untuk Nutrisi pada CKD: Pembaruan 2020","type":"source"},{"url":"https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/eating-nutrition","title":"Makan dengan Benar untuk Penyakit Ginjal Kronis","type":"source"}],"images":[{"id":713,"url":"https://injoys.com/rails/active_storage/blobs/proxy/eyJfcmFpbHMiOnsiZGF0YSI6ODk4MSwicHVyIjoiYmxvYl9pZCJ9fQ==--0d7c92e79470ea9686c8e9d86bdac0a361ee63e4/ai-e8901022.webp","is_representative":true,"generation_method":"ai_image","license":"ai_generated","mime_type":"image/webp","translations":{"ko":{"alt":"저울 위 콩팥과 연어, 달걀, 두부, 콩 등 다양한 단백질 식품을 배치한 일러스트","caption":"만성콩팥병에서 다양한 단백질 식품의 균형 잡힌 섭취가 중요함을 나타낸다.","description":null},"en":{"alt":"Kidneys on a balance scale surrounded by salmon, eggs, tofu, beans, and other protein foods","caption":"The illustration highlights balanced protein intake for people with chronic kidney disease.","description":null},"ja":{"alt":"天秤の上の腎臓と、サケ、卵、豆腐、豆類などのたんぱく質食品","caption":"慢性腎臓病では、さまざまなたんぱく質食品をバランスよく摂ることが大切だと示している。","description":null},"es":{"alt":"Riñones sobre una balanza rodeados de salmón, huevos, tofu, legumbres y otros alimentos proteicos","caption":"La ilustración destaca la importancia de equilibrar las proteínas en la enfermedad renal crónica.","description":null},"id":{"alt":"Ginjal di atas timbangan dikelilingi salmon, telur, tahu, kacang-kacangan, dan makanan berprotein","caption":"Ilustrasi ini menekankan pentingnya asupan protein seimbang pada penyakit ginjal kronis.","description":null},"pt":{"alt":"Rins sobre uma balança cercados por salmão, ovos, tofu, feijões e outros alimentos proteicos","caption":"A ilustração destaca a importância do consumo equilibrado de proteínas na doença renal crônica.","description":null},"zh-hant":{"alt":"天平上的腎臟，周圍擺放鮭魚、雞蛋、豆腐、豆類等蛋白質食物","caption":"插圖呈現慢性腎臟病患者均衡攝取不同蛋白質食物的重要性。","description":null},"de":{"alt":"Nieren auf einer Waage, umgeben von Lachs, Eiern, Tofu, Hülsenfrüchten und weiteren Eiweißquellen","caption":"Die Illustration verdeutlicht die Bedeutung einer ausgewogenen Eiweißzufuhr bei chronischer Nierenerkrankung.","description":null}}},{"id":714,"url":"https://injoys.com/rails/active_storage/blobs/proxy/eyJfcmFpbHMiOnsiZGF0YSI6ODk4NywicHVyIjoiYmxvYl9pZCJ9fQ==--6c64c59f1e4ee5b0f110816a6a4c9655f37e21ad/ai-6f2e2e52.webp","is_representative":false,"generation_method":"ai_image","license":"ai_generated","mime_type":"image/webp","translations":{"ko":{"alt":"콩팥 아이콘과 식사, 투석기, 노년층을 세 구역으로 연결한 단백질 섭취 조절 인포그래픽","caption":"만성콩팥병의 상태와 치료 단계에 따라 식단과 단백질 섭취를 조절해야 함을 보여준다.","description":null},"en":{"alt":"Infographic linking kidneys with meals, a dialysis machine, and older adults across three care stages","caption":"Protein intake and diet may need adjustment based on kidney function and treatment stage.","description":null},"ja":{"alt":"腎臓と食事、透析装置、高齢者を3つの段階で結んだタンパク質摂取調整の図","caption":"腎機能や治療段階に応じて食事とタンパク質量を調整する必要性を示している。","description":null},"es":{"alt":"Infografía que conecta los riñones con comidas, diálisis y adultos mayores en tres etapas","caption":"La dieta y las proteínas deben ajustarse según la función renal y la etapa del tratamiento.","description":null},"id":{"alt":"Infografik ginjal yang terhubung dengan makanan, mesin dialisis, dan lansia dalam tiga tahap","caption":"Asupan protein dan pola makan perlu disesuaikan dengan fungsi ginjal serta tahap perawatan.","description":null},"pt":{"alt":"Infográfico ligando rins a refeições, máquina de diálise e idosos em três etapas de cuidado","caption":"A dieta e a ingestão de proteínas devem ser ajustadas à função renal e à fase do tratamento.","description":null},"zh-hant":{"alt":"以三個階段連結腎臟、餐食、透析機與年長者的蛋白質攝取調整圖","caption":"飲食與蛋白質攝取應依腎功能及治療階段進行調整。","description":null},"de":{"alt":"Infografik zu Nieren, Mahlzeiten, Dialysegerät und älteren Menschen in drei Behandlungsphasen","caption":"Ernährung und Proteinzufuhr sollten an Nierenfunktion und Behandlungsphase angepasst werden.","description":null}}}],"published_at":"2026-08-17T19:15:54+09:00","updated_at":"2026-08-17T19:15:54+09:00","license":"cc_by","translation_status":"reviewed","available_locales":["ko","en","ja","es"],"data_locales":["ko","en","ja","es","id","pt","zh-hant","de"],"url":"https://injoys.com/en/articles/protein-intake-in-chronic-kidney-disease"}